Cart

News Detail

Memaknai Pembelajaran dalam Merayakan Pendidikan
by Tempo.co

INFO NASIONAL - Semua adaah guru menjadi makna acara Harmoni Bersama Masyarakat yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan 108 komunitas dan penggiat pendidikan di halaman kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Minggu, 29 Mei 2016. Dengan dukungan penuh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, acara bertajuk “Semua Murid, Semua Guru” menjadi puncak rangkaian Bulan Pendidikan 2016 memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.

Sepanjang Mei, rangkaian Bulan Pendidikan 2016 diisi peluncuran lagu pendidikan, kampanye dan lomba video “Ini Inspirasiku”, lomba desain seragam dan simbol identitas “Untuk Guru”, jugaworkshop dan talkshow “Buka Pintu Sekolah”. Selain itu terdapat roadshow “Guru Berbudi dan Teman Belajar”, dongeng keliling, Kontak Kampus, kampanye “Mitos Vs Fakta Pendidikan Indonesia”, dan peluncuran “Sinedu.id” yang dikemas sebagai program pengembangan literasi media melalui film untuk siswa, guru, dan orang tua.

“Kita harus merayakan apa yang sudah kita raih di bidang pendidikan. Namun, pekerjaan rumah kita masih besar, yaitu melaksanakan wajib belajar 6 tahun, 9 tahun, dan 12 tahun serta pemberantasan buta huruf,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Tentang tema Harmoni Bersama Masyarakat, “Semua Murid, Semua Guru”, Menteri Anies mengatakan semua orang adalah murid yang terus belajar, dan pada saat bersamaan, semua orang bisa menjadi dan adalah guru bagi orang lain. Ini memperluas makna pendidikan tanpa dibatasi sekolah. “Kita semua harus mampu menjadi manusia pembelajar. Bangsa ini akan maju dan berkembang karena yang kita jalani menjadi pengetahuan dan hikmah yang bermanfaat bagi semua orang,” ujarnya.

Dalam merefleksikan semangat Hari Pendidikan 2016, “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita”, Menteri Anies meminta semua pihak berhenti mengutuk kegelapan. “Pendidikan yang menyala akan membuat cita-cita anak-anak Indonesia muncul. Cita-cita muncul dari pengetahuan yang diterimanya. Karena itu, berhentilah mengutuk kegelapan dan nyalakanlah pelita,” tegasnya.

Menteri Anies juga mengajak semua pihak untuk mengembalikan bukan menyumbang. “Dari Indonesia, kita menjadi lebih terdidik dan tercerdaskan. Saatnya kita mengembalikan apa yang telah kita terima dari pendidikan. Selamat menjalankan ikhtiar tersebut dan memberi manfaat besar bagi kita semua,” katanya.

Dijelaskan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad, upaya memperluas akses pendidikan dilaksanakan melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Pelaksanaan program ini antara lain dengan Kartu Indonesia Pintar untuk penerima PIP yang merupakan siswa SD, SMP, SMA, dan SMK. “Tujuan program ini antara lain meningkatkan akses bagi anak usia 6 sampai 21 tahun untuk mendapat layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah untuk mendukung pelaksanaan Pendidikan Menengah Universal atau Rintisan Wajib Belajar 12 tahun,” kata Hamid.

Ia menambahkan, melalui PIP juga dapat dicegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan akibat kesulitan ekonomi. “Juga menarik siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan sekolah agar kembali mendapatkan layanan pendidikan di sekolah ataupun satuan pendidikan non formal,” ujar Hamid. (*)

Sumber berita : Tempo.co