Cart

Book Detail

Maestro of Darkness ; Teguh Santosa 1942-2000
by Dhany Valiandra, Iwan Gunawan, Toni Masdiono, Syar

Quick Overview

DAFTAR ISI: -Daftar isi -Kata pengantar Seno Gumira Ajidarma: Teguh Santosa Sepanjang Zaman -Kata pengantar Dhany Valiandra BAB 1-Serpihan Kenangan Menemani Bapak Sebagai Seorang Komikus oleh Dhany Valiandra Mengintip Proses Kreatif Teguh Santosa Kawah Candra Dimuka Sanggar Bambu ..Buah Bibir baca selengkapnya..

Quantity
  • Rp. 50,000 Rp. 52,500

DAFTAR ISI:
-Daftar isi
-Kata pengantar Seno Gumira Ajidarma: Teguh Santosa Sepanjang Zaman
-Kata pengantar Dhany Valiandra

BAB 1-Serpihan Kenangan Menemani Bapak Sebagai Seorang Komikus oleh Dhany Valiandra
Mengintip Proses Kreatif Teguh Santosa
Kawah Candra Dimuka Sanggar Bambu
..Buah Bibir Pengakuan
Melakonkan Cerita Komik di Tobong Ketoprak Siswo Budoyo
Misteri Soundtrack Film di Komik Mencari Mayat Mat Pelor
Tentang Komik “The Godfather” Teguh
Perang Dingin Teguh Santosa vs Ganes TH
Galaxy Erotica Pengembaraan Sensual Seorang Teguh
Sensualisme Berujung Penjara

BAB 2- Teguh Santosa dan karya-karyanya oleh Dhany Valiandra
Memuat daftar lengkap karya Teguh Santosa dan sampul komiknya.

BAB 3-Mengingat-ingat Teguh Santosa (1942-2000) oleh Syarifuddin
BAB 4- Guru dan Inspirator oleh Toni Masdiono
BAB 5- Theresia Sandhora, Mat Pelor, dan Teguh Santosa oleh Abdul Malik

BAB 6— Membaca “gelap-terang” Teguh Santosa oleh Iwan Gunawan
BAB 7- Teguh Santosa, Sang Raja Kegelapan oleh Bagus Ary Wicaksono
BAB 8- Dokumentasi Penghargaan Untuk Teguh Santosa
BAB 9- Profil Penulis, Editor

Pembaca yang Budiman,
Buku itu memang menjawab banyak kerinduan dan kepenasaran penggemarnya; tetapi bagi yang baru mulai belajar kenal juga lebih dari memadai.Sangat istimewa pengungkapan kehidupan Teguh sebagai seniman cergam (Teguh tidak menggunakan istilah “komik”, tetapi “novel filmis”, sebelum terdengar istilah “novel grafis”), terutama proses kreatif dan gagasan-gagasan yang dipikirkannya, sejauh tercatat oleh putranya, Dhany Valiandra. Dari sanalah terbaca info yang tidak terlalu sering diketahui, seperti kedekatan Teguh Santosa dengan dunia ketoprak, sebagai bidang kerja artistik ayahandanya, Soemarmo Adji, yang ternyata merupakan pembentuk bagi kecenderungan naratif berlatar sejarah. (Teguh Santosa Sepanjang Zaman, Kata Pengantar Seno Gumira Ajidarma)

Tentang Teguh Santosa
Komikus Teguh Santosa lahir di Malang, 1 Februari 1942. Dari ayahnya Soemarmo Adji dan ibunya Lasiyem bakat seni menetes dalam darahnya. Kedua orang tuanya adalahpemilik group kesenian ketoprak tobong “ Krido Sworo” pada waktu itu. Ayahnya pula yang berperan sebagai pelukis “tonil” panggung ketoprak, sedangkan ibunya adalah pemain ketoprak. Menamatkan pendidikannya di SD Kauman, SMP 2, SMA 4 Malang dan belajar melukis secara otodidak. Tahun 1966 hijrah ke Yogya bergabung dengan Sanggar Bambu ia berguru pada Kentardjo, Soenarto PR dan sastrawan Kirdjomulyo pada waktu itu.
Sebelum jadi komikus, Teguh pernah bekerja sebagai illustrator di majalah mingguan. Rintisan karirnya telah dimulai sejak SMP kelas 2. Saat itu ia banyak melihat karya illustrator di majalah “Terang Bulan” dan majalah luar negeri. Sejak itu pula keinginan menjadi illustrator makin kuat. Perkenalannya dengan orang-orang media mengantarkan karya ilustrasinya menghiasi majalah Gelora, Si Kuntjung, dan Post Minggu.
Dalam proses awalnya Teguh mengaku terpengaruh gaya ilustrasi Ekayana Siswoyo dan Nasjah
Djamin, sampai akhirnya dari proses waktu ke waktu ia temukan gaya sendiri. Lebih dari seratus judul komik telah ia garap. Beberapa diantaranya menggarap naskah SH Mintardja, Kho Ping Ho, RA Kosasih, Arswendo Atmowiloto.
Di era 70-an karya komik roman sejarahnya “Sandhora” telah menempatkan namanya dalam jajaran komikus papan atas di Indonesia. Website komikindonesia.com mencatat 86 judul karya komiknya. Mencari Mayat Mat Pelor, Mat Romeo, Tambusa, trilogi Badai dan Asmara di Teluk Tiram, Kraman, Sang Nagasasra, Kuil Loncatan Setan, The Godfather 1800, El Maut di Mata Dewa, Tragedi Dua Asmarawan, Satria Kilat Kejora, Istana Darah, Gitanjali, Anyer Panarukan, Cokro Manggilingan, Suling Perak Naga Iblis, Gerombolan Barong Mataram, Pendekar Pilihan Dewa, Majapahit Membara adalah sebagian dari judul komik karya Teguh Santosa. Teguh pun terus bergerilya bersama teman-teman seperjuangannya Jan Mintaraga, Ganes TH, Djair, Wid NS, Hasmi, terus memanjakan penggemarnya.
Tanpa disadari lewat karya-karyanya Teguh telah memberi satu citra kuat terhadap komiknya saat itu. Pergulatan dengan komik yang ditekuninya telah menjadi bagian penelitian Marcel Boneff (peneliti komik Indonesia dari Perancis). Saat pertama ia melakukan penelitian di Indonesia tahun 1974.
Perjuangannya merasa dihargai dan mendapatkan tempat ketika penulisan Ensiklopedia Indonesia dimulai, namanya tercantum di bab komik.
Perkenalannya dengan David Ross pelukis komik asal Canada tahun 1993 menyeretnya untuk hengkang bergabung dengan Marvel Comics (sindikasi komik terkemuka di AS dan komik Canada). Iapun terlibat di Gauntlet Comics, dapur pembuatan serial Conan, Spiderman, The Phunysher sebagai ‘ink-man’ dan karya cemerlangnya pun mulai diperhitungkan oleh Marvel Comics. Ia dipercaya menggarap serial Conan, Alibaba dan Piranha.
Teguh telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk komik. Barangkali ia adalah “Ruh” komik di jagad seni rupa kita.Saat-saat terakhir hidupnya ia masih setia dengan kertas dan pensil di tangannya. Mencoba bertahan untuk menyelesaikan karya komik sebuah harian yang tinggal beberapa episode lagi, hingga goresan terakhir tak lagi mampu diselesaikan karena penyakit kanker ganas telah menyerang tangannya. Teguh hanya menanti ajal tiba, bak sebuah lakon komik ia sempat menggigau dalam ketidaksadaran”……keris itu harus dilempar ke lereng Tengger.”. Dini hari, 25 Oktober 2000, Teguh menghembuskan nafas terakhir dimakamkan dekat peristirahatan ibunya di lereng pegunungan Tengger, desa Nongkojajar. Dia tak hanya meninggalkan ribuan gambar cerita komik, tapi juga sebuah catatan gemilang tentang perjalanan sebuah generasi yang pernah muncul di negeri ini.
Salah satu karya Teguh Santosa tahun 1967, “Sebuah Tebusan Dosa” telah diterbitkan ulang oleh Penerbit Galang Press Yogyakarta tahun 2003. Dalam kata pengantar di komik tersebut, Seno Gumira Ajidarma menyajikan tulisan bertajuk “Sastra Film” dalam Komik Teguh Santosa. “ Setiap media mempunyai cara berbahasa sendiri, dan dalam perbincangan bahasa komik, Teguh Santosa (1942-2000) telah menyeret kita kepada saling pengaruh yang berlangsung antara media komik dan media film. Dalam berbagai komiknya, Teguh menyatakan dengan jelas, bagaimana ia telah mengacu kepada media film. Dalam Kraman (1970/1971) misalnya, Teguh menyisipkan iklan dalam bentuk trailer (susunan adegan yang yang menjanjikan kisah seru) untuk apa yang kelak disebutnya ‘novel bergambar’ berjudul Mat Romeo. Nah, dalam iklan Mat Romeo yang merupakan logi ke dua dari Trilogi Sandhora itulah terbaca pernyataannya:”disadjikan setjara filmis dan kolosal”.
Pengaruh film memang sangat kuat dalam karya-karya Teguh sebagai pengunjung setia bioskop (“Seminggu hampir empat kali,” kata Dhani Valiandra)
Karya lain dari komik Teguh Santosa yang diterbitkan ulang adalah Mahabharata dan Bharatyudha oleh Penerbit Pluz+ tahun 2009. Kedua karya komik tersebut sebelumnya menjadi sisipan majalah anak-anak Ananda tahun 1984. Majalah Tempo dalam sisipan Iqra edisi 30 Agustus 2009 mengupas tuntas penerbitan ulang Mahabharata dan Bharatayudha.

“Harta karun” itu tersimpan di sepotong majalah anak. Tak banyak yang mengira dalam majalah yang memuat cerita anak, berita artis cilik, informasi hiburan, dunia sains, dan kuis itu, diam-diam mengendap sebuah karya yang tetap lezat “disantap” seperempat abad kemudian.
Karya itu: komik Mahabharata dan Bharatayudha ciptaan Teguh Santosa pada 1984, sebuah komik wayang yang ia sebut sebagai puncak pencapaian seorang komikus. “Nang, lek jenenge kiai iku lek diakui yen wis lunga kaji. Aku lek wis nggarap wayang Mahabharata iku wis sah banget. (Nak, kiai itu diakui kalau sudah berhaji.Aku kalau sudah menggarap wayang Mahabharata, itu sudah sah sekali),” kata Teguh Santosa kepada Dhani suatu kali. Maksudnya: Mahabharata adalah puncak karya bagi komikus.”Istilahnya, ijab Bapak dengan dunia komik itu sudah sah kalau sudah bisa membuat komik wayang Mahabharata-Bharatayudha,” kata Dhani Valiandra.
Majalah anak itu adalah Ananda-terbitan kelompok Kartini. Terbit setiap Jumat, komik Teguh mengisi delapan halaman bonus majalah yang kini telah “almarhum” itu. Mahabharata dan Bharatayudha muncul selama 59 edisi sejak awal 1984.
Redaksi Ananda memperkenalkan Teguh Santosa kepada pembaca sebagai “Oom Teguh Santosa.” Sang Oom melukis dan menceritakan kembali berdasar cerita wayang yang “disarikan dari Sejarah Wayang Purwa karangan Hardjowirogo dan Mahabharata karya R.A.Kosasih.”
Penerbitan ulang komik Mahabharata dan Bharatayudha karya Teguh santosa menurut Seno Gumira Ajidarma merupakan peristiwa kebudayaan.” Ini bahkan bisa dilihat sebagai politik kebudayaan untuk melawan penerbit besar yang modalnya tak terbatas tapi justru yang bermental pemulung-menerbitkan komik dengan biaya semurah mungkin dan dengan kemungkinan mendapatkan untung sebesar-besarnya,” kata Seno, yang melihat selama ini terjadi pengabaian yang dia sebut kebutaan teoritis terhadap komik.
Dalam konteks itu, Seno berpendapat bahwa hasil penerbitan Mahabharata apakah akan laku atau tidak di pasar bukanlah hal yang penting. Yang utama, katanya adalah penerbitnya “berani tampil dan bernegosiasi dengan situasi.”
Tahun 2015, Dewan Kesenian Jawa Timur menerbitkan buku Komik Indonesia Masih Ada, Teguh Santosa (1942-2000). Memuat tulisan dari Dhany Valiandra, Iwan Gunawan, Toni Masdiono, Syarifuddin, Bagus Ary Wicaksono dan Abdul Malik. Peluncuran dan diskusi buku Komik Indonesia Masih Ada, Teguh Santosa (1942-2000) diadakan Sabtu, 28 November 2015 pukul 19.00 di Semeru Art Gallery Jl.Semeru 14 Kota Malang. Didukung penampilan komikalisasi puisi oleh Elyda K.Rara dari Teater Komunitas. Aditya Sasongko, dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Ma Chung sebagai pemandu diskusi. (diolah dari berbagai sumber)

Detail Book

: MNC Publishing
: 978-602-6931-00-9
: 150 gram
: 18 x 25
: Soft Cover
: Black White
: Book Paper
: 152 pages